|
DIRGAHAYU
ASRAMA PUTRI
/Parcok
Pada hari Kamis minggu yang lalu, saya ke kampus karena
ada keperluan di Fapet. Ketika melintas di pertigaan
Jalan Bara, sekilas terbaca spanduk yang bertuliskan, "
Dalam rangka Dies Natalis ke ..., Asrama Putri IPB
menyelenggarakan khitanan masal dst dst....". Dari
tulisan di spanduk tersebut ada dua hal yang menarik,
yang pertama adalah "asrama putri", yang kedua adalah
"khitanan masal".
Kata 'asrama putri" bukanlah kata yang aneh.
Walaupun bukan termasuk "asrama putri fans club", tetapi
sebagai anggota Lawalata saya pernah berkunjung ke asrama
putri, tetapi yang di Baranangsiang, untuk pinjam
peralatan masak. Pada saat itu, dalam beberapa kegiatan
kita masih menyelenggarakan dapur umum sendiri. Peralatan
masak seperti panci, dandang, dan penggorengan yang
berukuran extra large itu biasanya kita pinjam
dari asrama putri. Berkunjung ke asrama putri, walaupun
sekedar untuk pinjam panci sepertinya sederhana akan
tetapi memerlukan nyali dan harus selalu waspada...
maklum dikandang lawan.
Kata "khitanan masal" bukanlah kata yang aneh. Walaupun
saya tidak pernah ikut khitanan masal, tetapi hampir
seluruh teman main dimasa kecil di kampung di Yogya sana,
adalah alumni khitanan masal. Pada awal tahun 70-an,
ada satu koperasi batik yang memang setiap
tahun menyelenggarakan secara rutin, dan hampir setiap
angkatan ada dua atau tiga orang teman yang mengikutinya.
Selain dikhitan secara gratis, mereka menerima hadiah
berupa sarung baru, peci baru serta uang jajan sebesar Rp
150,-. Dengan Rp 150,- itu teman-teman langsung merasa
kaya, karena kelereng Rp 5,- dapat tiga, layang-layang Rp
5,-, benang layang-layang siap pakai sepanjang 100 yard
dari RRT (China) cuma Rp 20,-.
Kembali ke tulisan spanduk di pertigaan Jalan Bara itu.
Kata "asrama putri" yang tidak aneh, dan kata 'khitanan
masal" yang juga tidak aneh, rasanya menjadi aneh ketika
dipertemukan, bahkan sepertinya menjadi suatu kombinasi
yang agak radikal. Rasanya lebih moderate kalau "asrama
putri" dikombinasikan dengan "vaksinasi polio", atau
"penyuluhan gizi untuk ibu dan anak". Saya yakin dan
percaya akan ketulusan para penghuni asrama putri untuk
membantu meringankan beban warga sekitar kampus, dijaman
yang susah ini. Sejujurnya saya menghargai adanya
khitanan masal tersebut. Akan tetapi seandainya saya
masih kecil dan belum dikhitan, dengan jujur juga perlu
saya sampaikan bahwa berat sekali rasanya kalau sementara
saya dikhitan ada penghuni asrama putri yang mondar
mandir, dan lebih berat lagi rasanya seandainya
dikhitannya di... asrama putri.
Biarlah urusan laki-laki ini diselesaikan sendiri diantara
laki-laki, dengan cara laki-laki... hehehe
Dirgahayu Asrama Putri IPB.
----------------------------------------
Suasana horor di asrama putri sebenarnya sudah dimulai
ketika membuka pintu
pagar. Bunyi derit pintu itu bagaikan alarm bagi para
penghuni, karena dari
balik beberapa jendela segera muncul berpasang mata.
Berjalan dari pagar
ke pintu utama asrama yang hanya berjarak beberapa meter,
dibawah sorotan
berpasang mata penghuni asrama putri benar-benar tidak
mengenakkan. Hanya
orang-orang cukup punya nyali yang bisa melakukannya
dengan tenang dan wajar.
Wildan berkunjung ke asrama putri ngomong sama tembok.
Saya pakai mencet
bel, baru kemudian ada penghuni asrama yang muncul. Tapi
nasib kami tidak
jauh berbeda, karena yang muncul adalah penghuni dengan
sorot mata yang penuh
selidik dan bertanya dengan nada yang dingin...ya sedingin
tembok asrama putri itu.
Setelah menjawab "Saya dari Lawalata, mau pinjam panci"
sambil menyerahkan
surat, saya disuruh duduk dan menunggu di ruang tamu.
Ruangannya cukup luas
tetapi penerangannya kurang memadai, sehingga suasananya
terkesan dingin.
Ada empat kali penghuni asrama yang berbeda melongok dari
dalam, menanyakan
siapa saya dan keperluannya apa, juga dengan sorot mata
yang penuh selidik dan
dengan nada yang dingin. Pada saat itu sore hari,
sehingga ada belasan penghuni
asrama yang pulang dari kampus. Sebagaimana teman-temannya
mereka juga
menanyakan hal yang sama, juga dengan sorot mata penuh
selidik dan nada yang dingin.
Selama saya menunggu, sempat ada dua penghuni yang keluar
dari dalam
berjalan dengan sikap yang dingin, melihat-lihat keluar
dan kemudian
berjalan kedalam lagi tetap dengan sikap yang dingin. Ini
merupakan masalah
tersendiri, karena kalau saya diam tidak menyapa jangan
nanti dianggap tamu
yang sombong dan tidak tahu diri, sementara kalau menyapa
jangan nanti
dipikir sok akrab... Saya pilih berdiam diri, walaupun
was-was, bingung,
dan serba salah.
Setelah menjalani siksaan dalam penantian, dan hampir dua
puluh kali harus
menjawab, "Saya dari Lawalata, mau pinjam panci"... Lega
juga, akhirnya
muncul pejabat asrama yang berkaitan dengan urusan
perpancian. Dia seorang
mahasiswi senior dengan penampilan sederhana, akan tetapi
cukup anggun dan
cukup cantik. Bolehlah diberi nilai 7,7 (jangan berkecil
hati, untuk mata
kuliah tertentu itu sudah cukup untuk dapat "A" lho).
Dalam kelegaan, saya menyapa "Selamat sore mbak"... Eh
dijawab dengan galak,
"Di asrama tidak boleh pakai bahasa daerah, panggil saya
Kak...". Wah, belum
selesai rupanya penderitaan saya. Dan benar, berikutnya
mulailah saya menjalani
introgasi, yang mau dipinjam apa saja, dalam rangka apa,
ketua panitianya siapa,
mau dipakai dimana, selama berapa lama, nanti masaknya
pakai apa, kapan mau
diambil, kapan mau dikembalikan, dsb dsb.
Selanjutnya saya menerima kuliah tentang tatacara
pinjam-meminjam panci.
Dijelaskan antara lain, panci dikembalikan sesuai jadwal
dan harus dalam keadaan
bersih, dsb dsb. Selama pertemuan tersebut, pejabat
asrama putri urusan perpancian
menyampaikan segala sesuatunya dengan nada yang dingin...
sedingin panci di pagi hari.
Selesai urusan perpancian, saya buru-buru minta pamit agar
segera bisa
mengakhiri penderitaan. Ketika sudah diluar dan saya
balik badan untuk
menutup pintu pagar, sekilas saya masih menangkap sorotan
berpasang mata
dibalik beberapa jendela. Akan tetapi saya tidak terlalu
perduli, yang penting
sudah berada diluar dan bisa menikmati indahnya alam
kemerdekaan.
Sorot mata penuh selidik dan pertanyaan-pertanyaan yang
diucapkan dengan nada
yang dingin, benar-benar membuat saya tersiksa,
serasa "musang terperosok ke kandang
domba". Padahal tidak ada niat dalam diri saya untuk
bertindak jahat, tidak ada niat
untuk mengobral janji gombal, dan tidak ada juga niat
melukai hati salah satu penghuni
asrama. Sungguh mati, saya datang hanya mau pinjam panci.
Mungkin kesalahan saya yang fatal adalah datang sendirian
ke asrama putri, sehingga
pendaki gunung yang satu ini jadi "underdog" banget.
Untung ketika tiba acara Lawalata (kalau tidak salah JAFT
1984), bukan saya yang harus
mengambil, dan juga bukan saya yang harus mengembalikan
panci tersebut ke asrama putri.
Sehingga sepanjang umur, kunjungan pinjam panci
diatas, merupakan sekali-sekalinya kunjungan
saya ke Asrama Putri IPB, dan itu rasanya sudah cukup....
"no woman no cry".
Sekali lagi... Dirgahayu Asrama Putri IPB
KIRIM
|