|
Titayanto
Pieter
(L-078)
Sebagai
mahasiswa
TPB
IPB
tahun
1977
saya
harus
memilih
kegiatan
ekstra
kurikuler.
Pilihannya
cukup
beragam.
Ada
kegiatan
otot
seperti
aneka
olahraga
individu
atau
kelompok.
Ada
kegiatan
otak
seperti
catur
dan
kelompok
percakapan
bahasa
Inggris.
Ada
juga
kegiatan
yang
memperkaya
conscience
misalnya
kegiatan
bakti
sosial
yang
antara
lain
mengorganisir
kegiatan
donor
darah
dan
penyantunan
bagi
anak
putus
sekolah.
Saya
perlu
kegiatan
otot
sebagai
pengimbang
aktivitas
kurikuler
TPB
yang
amat
sangat
berat
buat
otak
sederhana
saya.
Tetapi
saya
juga
ingin
selalu
memperkaya
otak
dengan
pengetahuan
dan
pengalaman
baru.
Dan
di
saat
yang
sama
saya
ingin
melakukan
kegiatan
yang
memberi
semacam
do
good
feeling.
Saya
memilih
Unit
Kegiatan
Cinta
Alam
karena
harapan
bahwa
kegiatan-kegiatannya
mengarah
pada
otot,
otak
dan
conscience
secara
bersamaan.
Lawalata
IPB
dan
Makna
Cinta
Alam
Tahun
1970an
di
Indonesia
antara
lain
dicirikan
dengan
tumbuhnya
berbagai
kelompok
pencinta
alam
di
lingkungan
sekolah
dan
universitas
maupun
kalangan
remaja
umumnya
Di
Jakarta
dan
sekitarnya,
pencinta
alam
identik
dengan
naik
gunung,
atau
bahkan
lebih
sempit
lagi
identik
dengan
trekking
malam
hari
ke
puncak
Gunung
Gede
atau
Pangrango.
Kelompok
seperti
Mapala
UI
atau
Wanadri
memberi
arti
yang
lebih
khusus
lewat
pendakian
tebing
dan
ekspedisi
ke
rimba
dan
puncak-puncak
gunung
tertentu.
Tetapi
secara
umum
citra
tentang
pencinta
alam
berkisar
pada
kegiatan
orienteering
atau
sebangsanya
sementara
peralatan
baku
dalam
kosa
kata
pencinta
alam
di
samping
tenda
adalah
ransel
dengan
bingkai
sandang,
snap
ring,
tali
panjat
dan
kantong
tidur.
Salah
satu
andil
L-IPB
bagi
dunia
pencinta
alam
barangkali
adalah
dalam
memperkenalkan
sisi
kegiatan
pencinta
alam
yang
beda
dari
yang
dipopulerkan
Wanadri
atau
Mapala
atau
ratusan
kelompok
pencinta
alam
yang
lain.
L-IPB
mempromosikan
“lingkungan”
(environment)
dan
bukan
sekedar
alam
(nature).
Boleh
dibilang,
L-IPB
mendomestikasi
kegiatan
dari
yang
semula
berhubungan
hanya
dengan
ke
alam
terbuka,
menjadi
juga
berhubungan
dengan
sesama
warga
dan
lingkungan
pemukiman.
Pada
pertengahan
Oktober
1979,
misalnya,
Lawalata
IPB
dalam
rangka
lustrum
mengorganisir
suatu
lokakarya
untuk
merumuskan
peran
pencinta
alam
dalam
meningkatkan
kesadaran
lingkungan.
Saat
itu
Kementerian
Negara
Pengawasan
Pembangunan
dan
Lingkungan
Hidup
baru
berusia
sekitar
setahun.
Menteri
Emil
Salim
sedang
giat
melancarkan
berbagai
upaya
penyadaran.
Pengertian
umum
tentang
“lingkungan”
misalnya
mencampur
aduk
antara
environment
dan
neighbourhood,
sehingga
perlu
diluruskan
lewat
kegiatan
dan
keterlibatan
konkrit.
Secara
umum
wawasan
kepentingan
individu
masih
amat
terbatas
pada
diri,
keluarga
dan
sisi
dalam
pagar
rumahnya.
Dimensi
keterkaitan
individu
pada
lingkungannya
harus
digali
dan
ditekankan.
Sampah
dan
limbah
misalnya
hanya
dipedulikan
sejauh
pagar
rumah;
di
luar
itu
orang
(atau
perusahaan)
yakin
bahwa
sampah
dan
limbah
bukan
lagi
urusannya
dan
tidak
punya
dampak
pada
kehidupannya.
(Sayangnya
sikap
ini
masih
saja
dimiliki
banyak
orang
sampai
sekarang).
Pencinta
Alam
dan
Kesadaran
Lingkungan
Sejumlah
15
kelompok
(34
orang)
pencinta
alam
asal
Jakarta,
Bogor
dan
Bandung
memenuhi
undangan
untuk
berlokakarya
dua
hari
di
Bogor.
Semua
peserta
ditampung
di
hostel
remaja
di
Tanah
Sareal
atas
biaya
panitia.
Rektor
membuka
lokakarya
yang
diselenggarakan
di
Aula
Agronomi
Baranangsiang.
Pak
Emil
Salim
yang
Menteri
PPLH
memberi
arahan.
Direktur
PPA
(sekarang
menjadi
Direktorat
Jenderal
Perlindungan
dan
Konservasi
Alam)
dan
seorang
stafnya
memberi
uraian
panjang
lebar
tentang
kegiatan
mereka.
Lokakarya
kemudian
merumuskan
bahwa
kelompok
pencinta
alam
dengan
keragaman
latar
belakangnya
perlu
terlibat
dalam
kegiatan
peningkatan
kesadaran
lingkungan.
Lokakarya
juga
merumuskan
tiga
bentuk
kegiatan:
pendidikan
(termasuk
penyuluhan,
lomba
karya
tulis
dan
foto
serta
pameran),
pengamatan
berkala
terhadap
kondisi
lingkungan
hidup,
dan
kegiatan
lain
seperti
seminar
dan
diskusi,
aksi
kebersihan
dan
penghijauan,
serta
pencarian
obyek
wisata.
Saya
tidak
ingat
luar
kepala
tentang
lokakarya
ini.
Seminggu
setelah
pelaksanaan
lokakarya
ini
saya
terpilih
sebagai
Ketua
Umum
dalam
Mubes.
Salah
satu
tanggung
jawab
awal
saya
adalah
menyelesaikan
serta
mengedarkan
laporan
lokakarya
itu
(saya
kebetulan
menyimpan
satu
kopi).
Rekomendasi
lokakarya
ini
juga
saya
gunakan
sebagai
pijakan
untuk
menyusun
program
di
masa
kepengurusan
saya.
IPB
terkenal
mampu
mendera
mahasiswanya
dengan
kegiatan
akademis.
Jadi
kami
perlu
kegiatan-kegiatan
yang
cukup
beragam
untuk
menampung
minat
anggota,
tetapi
cukup
sederhana
untuk
dilaksanakan
sebagai
kegiatan
sampingan
yang
tidak
terlalu
menyita
waktu.
Di
saat
yang
sama,
saya
juga
ingin
kegiatan
itu
baik
bagi
conscience
orang
yang
menelorkan
gagasan
maupun
yang
melaksanakan.
Pak
Emil
Salim
dua
minggu
kemudian
datang
lagi
ke
Bogor
atas
undangan
L-IPB
untuk
melakukan
penanaman
pohon
di
lokasi
Perumnas
Sukasari.
Dalam
minggu
yang
sama,
Mapala
UI,
L-IPB
dan
Wanadri
diundang
oleh
TVRI
(satu-satunya
saluran
dan
stasiun
televisi
ketika
itu)
untuk
mengisi
acara
talk
show
30
menit
tentang
pencinta
alam.
Sekitar
2
minggu
kemudian,
Direktorat
PPA
memboyong
sejumlah
anggota
pencinta
alam
Jakarta
Bogor
ke
Alun-alun
Suryakencana
untuk
diwawancara
TVRI
di
setting
yang
lebih
alami.
Dalam
kilas
balik,
rekomendasi
lokakarya
Oktober
1979
itu
barangkali
juga
berfungsi
sebagai
semacam
justifikasi
pada
apa
yang
telah
dikerjakan
L-IPB
yang
berbeda
dari
kelaziman
kegiatan
kelompok
pencinta
alam
di
masa
itu.
Bahkan
sebelum
lokakarya
itu,
aktivitas
utama
dalam
Jamboree
Antar
Fakultas
dan
TPB,
misalnya,
telah
diarahkan
pada
penyuluhan
ke
masyarakat
tentang
penghijauan,
pemanfaatan
pekarangan
dan
kesehatan
lingkungan.
Memang
ada
kegiatan
penjelajahan
dan
lintas
alam,
tetapi
itu
seingat
saya
lebih
merupakan
kegiatan
hura-hura
daripada
serius
menguji
kepiawaian
baca
peta
dan
menggunakan
kompas.
Butir
terakhir
rekomendasi
yaitu
mencari
lokasi
wisata
telah
pula
dikerjakan
oleh
sebagian
Anggota
Muda
dalam
rangka
penulisan
karya
ilmiah
(atau
apa
yang
diakui
sebagai
karya
ilmiah)
sebagai
syarat
untuk
menjadi
Anggota
Biasa.
Wisata
alam
atau
ekowisata
di
tahun
1978-79
itu
belum
lagi
memiliki
bentuk.
Sementara
pencinta
alam
terkenal
senang
menyelusup
kesana
kemari
dan
“menemukan”
lokasi
eksotik.
Tetapi
pengetahuan
tentang
lokasi
dan
keunikannya
itu
umumnya
tidak
dokumentasi
dengan
baik;
informasinya
sekedar
disebar
verbal
antar
teman
dan
kenalan
sesama
pencinta
alam.
Media
massapun
sangat
terbatas.
Ada
upaya
untuk
bekerjasama
dengan
tabloid
Mutiara
dalam
mempromosikan
lokasi
wisata
alam,
tetapi
prakarsa
ini
tidak
bergaung
luas
di
luar
kalangan
pencinta
alam
masa
itu.
Awal
Lima
Tahun
yang
Kedua
Lawalata-IPB
Rekomendasi
Oktober
1979
itu
kemudian
berusaha
diterjemahkan
dalam
kegiatan
L-IPB.
Kebetulan
Prof.
Soeratno
Partoatmodjo
almarhum
yang
saat
itu
menjabat
Kepala
Pusat
Studi
Pengelolaan
Sumberdaya
dan
Lingkungan
IPB,
sangat
mendukung
dengan
dana
dan
peralatan.
Dan
Mas
Bowo
yang
saat
itu
sudah
mulai
bekerja
sebagai
pegawai
PSL
menjadi
penghubung
yang
sangat
membantu.
Akses
yang
telah
dibuka
oleh
Pengurus
periode
sebelumnya
ke
Direktorat
PPA,
WWF
dan
Kementrian
Negara
PPLH
juga
amat
membantu
L-IPB
menentukan
sikap
dan
bentuk
kegiatan
karena
tidak
tergantung
mutlak
pada
dana
dari
IPB
dan
Pembantu
Rektor
urusan
Kemahasiswaan
seperti
banyak
Unit
Kegiatan
dan
organisasi
ekstra
kurikular
lain
di
lingkungan
IPB.
Di
lingkungan
kampus,
Lawalata-IPB
membuat
kampanye
dengan
membuat
dan
memasang
papan
amar
dan
tong
sampah.
Juga
ada
lomba
penulisan
puisi
lingkungan.
Rektor
mendukung
prakarsa
untuk
meng"hidup"kan
Taman
Koleksi
di
sisi
selatan
lapangan
depan
kampus
Baranang
Siang
yang
tadinya
dikurung
pagar
dan
onak.
Warga
IPB
juga
antusias
ikut
serta
pada
urban
trekking
bulanan
untuk
warga
kampus
dan
masyarakat
peminat
umum.
Dalam
acara
Jalan
Pagi
Sehat
itu
peserta
diajak
jalan
bersama
masuk
keluar
desa
di
sekitar
Baranang
Siang.
Tujuannya
bukan
saja
berolahraga
tetapi
juga
untuk
melihat
“halaman
belakang”
rumah
dengan
harapan
tiap
peserta
menjadi
lebih
memperhatikan
kebersihan
dan
keasrian
lingkungan.
Sayangnya
hampir
semua
trek
itu
saat
ini
sudah
berubah
menjadi
pemukiman
seperti
Danau
Bogor
Raya.
Rektor
juga
mendukung
lomba
kebersihan
yang
diselenggarakan
L-IPB
antar
sekolah
dasar
di
kota
Bogor.
Lomba
kebersihan
itu
sendiri
kami
maksudkan
sebagai
bagian
paket
penyuluhan
penanganan
sampah
kota.
Dengan
bantuan
dana
dan
pengarahan
metodologis
dari
PSL
IPB,
Lawalata
membuat
suatu
kajian
tentang
pengelolaan
sampah
padat
di
Bogor,
dan
memberi
rekomendasi
ke
walikota
untuk
penanganannya.
Prakarsa-prakarsa
Inovatif
Semua
prakarsa
ini
bukan
tanpa
risiko
alienasi
dari
pencinta
alam
yang
lain.
Di
suatu
acara
kumpul-kumpul
pencinta
alam
di
Cibodas,
misalnya,
ada
seorang
peserta
mengeluarkan
payung
dari
ransel
sementara
yang
lain
mengeluarkan
ponco
ketika
hujan
mulai
turun.
Komentar
yang
terdengar
adalah
“Itu
pasti
anak
Lawalata…”
Bukan
nada
sinis,
tetapi
tetap
mencerminkan
kesan
bahwa
L-IPB
lebih
karib
dengan
studi
ilmiah,
diskusi,
seminar,
makalah
posisi
dan
sebangsanya
daripada
dengan
alam
bebas.
Mungkin
kesan
itu
ada
benarnya.
Direktorat
PPA
misalnya
pernah
meminta
Lawalata
terlibat
dalam
suatu
tim
kecil
untuk
membuat
rekomendasi
tentang
lokasi
dan
kegiatan
wisata
alam
remaja.
Tetapi
L-IPB
juga
mengintroduksi
gagasan
dokumentasi
ilmiah
sederhana
yang
dapat
dilakukan
para
remaja
ketika
melakukan
wisata
atau
perkemahan.
Kami
harus
mensurvei
belasan
lokasi
di
Jawa
yang
kalau
diterjemahkan
dengan
bahasa
mahasiswa
sebetulnya
adalah
dibayar
untuk
hiking
dan
trekking
keliling
Jawa.
Padahal
tanpa
dibayarpun
kami
sudah
amat
sukacita
memperoleh
kesempatan
seperti
itu.
Apalagi
ada
bonus
kenalan
baru
serta
film
gratis
beberapa
rol
(positif
dan
negatif
hitam/putih).
Atas
rekomendasi
kajian
ini,
PT
Inhutani
kemudian
mengembangkan
lokasi
perkemahan
untuk
wisata
remaja
di
berbagai
tempat
di
Jawa.
Apa
yang
diusulkan
L-IPB
sebagi
gagasan
sampingan
wisata
alam
remaja
ini
bukanlah
penelitian
biologi
mendalam
seperti
yang
dilakukan
teman-teman
dengan
latar
belakang
akademis
biologi.
Kami
mengusulkan
kajian
sederhana
untuk
sekedar
melengkapi
deskripsi
lokasi
yang
dikunjungi.
Alhasil,
inipun
dikatakan
sebagai
bias
anak
Lawalata
untuk
tidak
pernah
melupakan
sekolah
bahkan
selagi
bermain.
Istilah
pemantauan
lingkungan
di
saat
itu
belum
lagi
masuk
dalam
kosakata
umum.
Lawalata
menggunakan
istilah
pengamatan
berkala
pada
kondisi
lingkungan.
Tetapi
ini
lebih
bersifat
wishful
thinking
–angan-angan.
Kami
tidak
memiliki
sistem
dan
peralatan
yang
memungkinan
pengamatan
itu
dilakukan
secara
sistematis.
Kami
bahkan
tidak
sampai
mengulas
perlunya
semacam
kajian
untuk
menetapkan
garis
dasar
(base
line)
yang
dapat
dipakai
sebagai
acuan
untuk
mengatakan
apakah
terjadi
kemunduran
atau
perbaikan
kondisi
lingkungan.
Daftar
sederhana
yang
diusulkan
untuk
wisata
alam
remaja
kemudian
dibuat
lebih
serius.
Gagasan
ini
dilontarkan
ke
kalangan
lebih
luas
pencinta
alam
di
akhir
tahun
1980
untuk
membekali
setiap
anggota
kelompok
pencinta
alam
dengan
semacam
daftar
sederhana
untuk
membantu
mereka
mencatat
kondisi
lingkungan
yang
mereka
datangi
atau
lewati.
Ada
lokakarya
dan
kelompok
kerja,
ada
pengujian
dan
percobaan
penggunaan
daftar
ini
dalam
kesempatan
trekking
bersama,
lalu
ada
perbaikan
lagi,
tetapi
kemudian
menggantung
dan
mati.
Daftarnya
telah
berubah
dari
konsep
suatu
daftar
sederhana
menjadi
acuan
pemantauan
yang
amat
pelik.
Jika
gagasan
semula
adalah
siapa
saja
dengan
latar
belakang
ilmu
apa
saja
akan
dapat
mengisi
daftar
ini,
setelah
beberapa
iterasi
penyempurnaan
telah
menjadi
daftar
yang
harus
diisi
oleh
kandidat
doktor
multi
disiplin.
Gagasan
ini
lalu
menggantung
tanpa
penyelesaian.
Tahun
1980
juga
menghadirkan
banyak
sosok
baru
di
gelanggang
lingkungan.
Pencinta
alam
mungkin
besar
dalam
jumlah
tetapi
tidak
signifikan
dalam
pengaruh.
Pembangunan
Indonesia
di
saat
yang
sama
menghadirkan
agenda
“Membangun
Tanpa
Merusak”
yang
mendahului
putaran
diskusi
global
pembangunan
berkelanjutan
(yang
kemudian
dilaporkan
dengan
tajuk
Our
Common
Future).
Ada
harapan
baru
bahwa
pilihan
yang
bijak
akan
memungkinkan
isu
alam
dan
lingkungan
tidak
harus
berseberangan
dengan
pembangunan
ekonomi.
Pembangunan
dapat
dilakukan
dengan
tetap
memperhatikan
kaidah
lingkungan.
Dan
pencinta
alam
merasa
perlu
bersuara
lantang
untuk
mengimbangi
bising
mesin
pembangunan.
Ada
keinginan
untuk
menggalang
semacam
koalisi
lingkungan.
Pada
awal
1980
mulai
ada
pembicaraan
ke
arah
pembentukan
koalisi
itu.
L-IPB
ikut
urun
rembug
dengan
pencinta
alam
lain.
Suatu
koalisi
dianggap
akan
lebih
efektif
untuk
menyuarakan
kepentingan
pencinta
alam.
Karena
pengalaman
penggalangan
massa
menjelang
Sidang
Umum
MPR
1978,
ada
kecurigaan
bahwa
koalisi
ini
adalah
alat
untuk
menghimpun
dan
membungkam
kelompok
pencinta
alam.
Tetapi
disadari
bahwa
pencinta
alam
perlu
memperoleh
rekognisi
untuk
duduk
sebagai
mitra
sejajar
di
satu
meja,
bahkan
jika
isu
yang
dibahas
menempatkan
para
pihak
secara
berseberangan.
Setidaknya,
itulah
yang
memotori
peranserta
L-IPB
dalam
diskusi
awal
ke
arah
pembentukan
Wahana
Lingkungan
Hidup
Indonesia.
Penutup
Konteks
dan
prioritas
kepentingan
tentu
saja
berkembang
sesuai
tantangan
mutakhir.
Tetapi
bahwa
kelompok
pencinta
alam
memiliki
gigi
dalam
debat
kebijaksanaan
sekarang
bukan
lagi
hal
yang
aneh.
Saya
berharap
tulisan
ini
memberi
gambaran
tentang:
1.
Apa
yang
dipahami
oleh
Lawalata
IPB
sebagai
cerminan
cinta
alam
dalam
arti
lebih
luas;
2.
Apa
yang
dilakukan
Lawalata
IPB
dalam
konteks
gerakan
lingkungan
di
Indonesia
pada
akhir
1970an
itu;
dan
3.
Apa
yang
berusaha
dilakukan
dengan
semangat
inovatif
untuk
memilih
kegiatan
sederhana
yang
dapat
dikerjakan
mahasiswa
dalam
waktu
luang,
tetapi
yang
kontekstual
dengan
kebutuhan
pencagaran
lingkungan
dan
sumberdaya
alam
dalam
arti
yang
luas
Pada
bulan
Januari
1981,
Musyawarah
Besar
anggota
yang
diadakan
di
arena
JAFT
di
Gunung
Bunder,
Ciampea,
memilih
saudara
Roy
sebagai
Ketua
Umum
yang
baru.
Saya
dan
Sekretaris
Umum
Yoyo
(L-046;
Dr.
Dwi
Listyo
Rahayu,
peneliti
krustasea
LIPI)
rasanya
membuat
memorandum
akhir
jabatan,
tetapi
entah
apa
isi
lengkapnya
karena
saya
sendiri
ternyata
tidak
menyimpan
kopinya.
Apakah
keterlibatan
saya
di
Unit
Kegiatan
Cinta
Alam
dan
kemudian
Lawalata
IPB
memenuhi
harapan
saya
untuk
memperoleh
kegiatan
otot
dan
otak
yang
baik
bagi
conscience?
Tentu
saja.
Lagipula,
pekerjaan
serta
karir
saya
boleh
dikata
berpijak
pada
apa
yang
saya
petik
selama
di
IPB
lewat
Unit
Kegiatan
Cinta
Alam
dan
kemudian
lewat
Lawalata
IPB.
Beberapa
minggu
setelah
serah
terima
jabatan
Ketua
Umum
L-IPB,
saya
memperoleh
tawaran
pekerjaan.
Dan
itu
terutama
karena
latar
belakang
dan
keterlibatan
saya
di
Lawalata
IPB.
Palu,
8
Mei
2000
t./
|