|
Cerita tentang Suku Baduy yang tidak asing lagi bagi masyarakat Jawa
Barat bahkan Indonesia.
Komunitas ini memiliki keunikan tersendiri yang
membangkitkan rasa keingintahuan untuk melihatnya secara
langsung. Mereka tidak mau disebut suku terasing tetapi suku
yang mengasingkan diri dari peradaban. Karena berbaai macam
program yang ditawarkan oleh pemerintah pusat maupun daerah
mereka tolak sebab mereka mempunyai hukum adat yang mengikat
setiap permasalahan apapun
Perkampungan Baduy terletak di Propinsi Banten, tepatnya di daerah
Rangkasbitung. Jika
berangkat dari Bogor, diperlukan waktu sekitar 6 jam untuk
sampai di perkampungan Baduy Luar.
Sedangkan untuk mencapai perkampungan Baduy Dalam
diperlukan waktu 4 jam berjalan kaki melintasi 7 bukit.
Jalan menuju Baduy Dalam tidak bisa dilalui kendaraan
bermotor, mengingat jalannya yang terjal dan naik-turun.
Selain itu, kendaraan bermotor tidak boleh
dipergunakan di Baduy Dalam. Dan salah satu larangan adat
adalah mereka tidak boleh memakai sandal dan naik sarana
transportasi baik itu kapal maupun kendaraan bermotor.
Sejarah Baduy memiliki kaitan yang erat dengan Suku Kasepuhan yang
berada di taman nasional gunung Halimun. Mereka
mengasumsikan bahwa Konon nenek moyang mereka bersaudara.
Mereka mempunyai kemiripan dalam adat istiadat. Adapun
tingkat strata diantara keduanya adalah lebih tinggi suku
Baduy. Hal ini disebabkan bahwa nenek moyang (sesepuh)
yang ada di suku Baduy adalah laki-laki dan Kasepuhan adalah
perempuan
Suku Baduy terbagi menjadi 2 golongan yaitu Suku Baduy Luar dan Baduy
Dalam. Masing-masing
memiliki kampung yang letaknya terpisah.
Ada beberapa hal yang mendasari terbentuknya 2
golongan ini. Berdasarkan cerita masyarakat Baduy Luar maupun Baduy Dalam,
orang Baduy awalnya adalah suku Baduy Dalam.
Istilah Baduy Luar muncul karena adanya
pelanggaran-pelanggaran adat yang dilakukan oleh orang Baduy
Dalam sehingga mereka harus keluar dari Baduy Dalam.
Sebab lainnya yang dilakukan secara sengaja adalah
karena memeluk agama Islam. Masyarakat muslim ini membentuk
perkampungan sendiri.
Suku Baduy Dalam tersebar dalam 3 kampung yaitu kampung Cibeo, cikesik
dan Cikertawana. Setiap
kampung dikepalai oleh seorang kepala suku atau Puun. Puun dibantu oleh seorang wakil yang disebut sebagai Jaro.
Puun ini memiliki tugas dan tanggung jawab
yang saling berkaitan dan mempunyai spesialisasi tertentu.
Puun Cibeo dalam bidang pertanian, Puun
Cikesik dalam bidang keagamaan, dan Puun Cikertawana
dalam bidang obat-obatan.
Tanggung jawab ini berlaku untuk ketiga kampung,
bukan hanya kampung yang mereka pimpin. Cara pergantian Puun
dilakukan bila Puun terlihat merasa tidak kuat, resah,
bingung dan sering kerasukan roh-roh gaib serta melalui
mimpi dari salah seorang suku Baduy Dalam.
Cerita yang berkembang dimasyarakat luar Baduy mengatakan jumlah Kepala
Keluarga suku Baduy Dalam harus sebanyak 40 KK. Jika jumlah KK-nya lebih dari 40, maka salah satu dari mereka
harus keluar dari Baduy Dalam.
Ternyata kisah itu bermula pada jaman penjajahan
Belanda. Pada saat itu jumlah
Kepala Keluarga suku Baduy Dalam yang tersebar di tiga
kampung ada 40 KK. Mereka
didaftar oleh Belanda guna membayar upeti tahunan.
Setiap kali didaftar Belanda, mereka menyebutkan
bahwa jumlah KK tetap yaitu 40 dengan tujuan untuk
memperingan pembayaran pajak.
Padahal jumlah KK terus bertambah seiring dengan
peningkatan jumlah pernikahan.
Saat ini jumlah KK di Baduy Dalam ada 83 KK yang
tersebar di tiga kampung.
Jadi cerita itu merupakan taktik warga Baduy Dalam
untuk mengelabuhi Belanda.
Masyarakat
Baduy Dalam beragama Sunda Wiwitan.
Artinya agama cikal bakal atau yang pertama kali.
Agama yang mereka peluk adalah agama pertama yang
diturunkan ke bumi oleh Tuhan, yaitu Gusti Allah.
Mereka mengakui bahwa Gusti Allah itu satu.
Pengakuan ini direfleksikan dengan pembacaan syahadat.
Nabi panutan mereka adalah Nabi Adam. Sebenarnya
mereka mengetahui dan mengakui bahwa Muhammad itu ada, tapi
sebagai Nabi Akhir Zaman.
Berdasarkan asimilasi antara agama mereka dengan
agama Islam maka agama yang mereka anut disebut sebagai
Islam Sunda Wiwitan.
Sistem
pernikahan yang ada di suku Baduy Dalam masih menerapkan ala
“siti nurbaya” . Mereka ditunangkan satu dengan lainnya
tanpa adanya ikatan cinta diantara mereka. Orang tua adalah
penentu calon pasangan. Dalam pemikiran mereka cinta akan
tumbuh sendirinya selama menjalani rumah tangga yang baru.
Rata-rata gadis menikah berumur belasan. Pada acara
pernikahan pasangan akan mengenakan pakaian yang baru yang
namanya “ baju dumping”, dibeli dari Baduy Luar.
Adapun yang unik lagi adalah system khitanan massal.
Khitanan yang diadakan merupakan salah satu pesta terbesar
bagi suku Baduy Dalam. Dalam pesta ini mereka memotong
puluhan ekor ayam sebagai bentuk pesta atau syukuran.
Mungkin kalau kita mengunjungi suku Baduy tepat pada acara
khitanan massal mungkin kita dapat makan
ayam sepuasnya.
Sebagai
refleksi adanya demokrasi diantara mereka adalah adanya
sebuah aula pertemuan untuk membahas setiap
permasalahan yang mereka hadapi. Masyarakat Baduy Dalam juga
mengenal kesenian musik “Angklung” yang dipentaskan saat
perayaan pernikahan dan kesenian kerajinan tangan. Namun
suku Baduy Dalam tidak mengenal seni tenun untuk memenuhi
kebutuhan sandang mereka. Mereka bergantung dari hasil
tenunan suku Baduy Luar
Hal ini menunjukkan tingkat peradaban yang tinggi
diantara mereka. Adapun fungsi lain dari aula adalah sebagai
tempat perayaan pesta pernikahan maupun pesta khitanan.
Mereka
biasa berkomunikasi dengan Gusti Allah dengan cara membakar
kemenyan. Kemenyan yang dinyalakan dapat menimbulkan kontak batin
secara langsung dengan-Nya.
Mereka melakukan upacara-upacara adat sebagai wujud
rasa terima kasih kepada-Nya.
Orang-orang Baduy Dalam percaya adanya kehidupan
setelah mati. Mereka percaya surga dan neraka itu ada.
Wujud kepercayaan itu terlihat dalam tingkah laku dan
perbuatan mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Mereka senantiasa berbuat jujur, menjauhi rasa iri,
benci dan rasa-rasa lain yang dapat merusak kesucian jiwa
mereka.
Berbeda dengan ibadah umat Islam pada umumnya, mereka
merayakan lebaran 3 kali dalam setahun.
Sebelum merayakan lebaran, mereka melaksanakan puasa
selama 3 hari dengan lama waktu setengah hari untuk setiap
pelaksanaan puasa. Mereka
menyebut puasa 3 hari itu dengan puasa 3 bulan. Adapun
perayaan lebaran dinamakan upacara “Kawalun”.
Sistem
penanggalan masyarakat Baduy Dalam cukup unik.
Sistem kalender mereka berbeda dengan sistem kalender
Masehi maupun kalender Islam. Hal inilah yang menyebabkan
kesulitan untuk mendapatkan informasi tentang waktu
pelaksanaan lebaran secara jelas. Mereka tidak mengenal
12 bulan dalam setahun.Setiap tahun bisa lebih dari
12 bulan dan tergantung panen, Bulan pertama dimulai apabila
mereka merayakan panen padi “huma” Jumlah hari dalam tiap bulan adalah 30 hari.
Nama-nama bulannya antara lain adalah
bulan Kalima, Kaenam, Kawalu, Sapar dan seterusnya.
Suku
Baduy Dalam kesehariannya menjunjung tinggi prinsip gotong
royong dalam pekerjaan apapun baik itu dikalangan
bapak-bapak maupun ibu-ibu. Untuk contohnya dikalangan kaum
laki-laki dalam setiap pendirian rumah mereka kerjakan
secara bersama-sama dan lainnya, dikalangan ibu-ibu terlihat
pada acara menumbuk padi dalam “lesung panjang”,
sebuah lesung yang panjang sekali, yang digunakan untuk
menumbuk padi huma.
Suku Baduy Dalam tidak memperkenankan orang selain
Islam memasuki kawasan Baduy Dalam.
Hal ini disebabkan adanya kepercayaan bahwa tanah
mereka adalah tanah yang suci tempat Adam pertama kali
diturunkan ke bumi sebagai khalifah.
Mereka berpendapat selain pemeluk agama Islam adalah
orang kafir. Orang
kafir tidak berhak menjejakkan kakinya di bumi Baduy Dalam.
Orang
Baduy Dalam mengenakan pakaian dengan atasan putih dan
bawahan hitam. Warna
putih merupakan sebuah symbol mereka memiliki hati yang “bersih”,
suci, dan jujur. Keseragaman
pakaian juga menunjukkan pada dasarnya mereka adalah sama. Tidak ada yang lebih dari yang lainnya. Tidak ada yang lebih tinggi status sosialnya.
Tidak ada yang lebih berkuasa.
Orang Baduy Luar berpakaian serba hitam.
Pakaian ini merupakan simbol bahwa mereka bebas dari
aturan adat. Mereka
sudah terpengaruh dengan budaya dari luar.
Mereka memiliki ambisi untuk mengejar kenikmatan
duniawi, rasa iri, dengki, benci, maupun tidak jujur.
Jika
diamati, kondisi perekonomian masyarakat Baduy Dalam dapat
dikatakan setara. Hal
ini dapat dilihat dari bentuk rumah mereka yang semuanya
sama, baik bentuk maupun ukurannya.
Mereka mencukupi kebutuhan hidupnya dari hasil kebun,
sawah, dan ladang. Kadang-kadang
mereka mengambil kayu dari hutan.
Masyarakat Baduy Dalam menerapkan sistem ladang
berpindah dengan penggarapan secara bergilir. Adapun tipe
suku Baduy dalam adalah vegetarian. Makanan sehari-hari
didapat dari alam sekitar tanah milik mereka. Mereka tidak
mengenal tanah ladang adalah hak milik pribadi Hukum adat
mereka mengatur bahwa batas tanah suku Baduy dalam adalah
hak milik seluruh penghuni suku Baduy Dalam. Mereka dapat
mengambil apapun dari batas tanah tersebut. Hukum yang ada
membatasi antara tanah milik suku Baduy Luar dan Dalam.
Diantara mereka tidak boleh mengambil hasil apapun selain di
wilayah mereka masing-masing
Mereka
juga memiliki ukuran atau standar untuk menunjukkan status
ekonominya. Status ekonomi seseorang ditunjukkan dengan kepemilikan
terhadap padi, ayam, kucing dan lembaran kain yang tersimpan
di lemari mereka. Semakin
banyak kepemilikan mereka terhadap barang-barang tersebut,
maka mereka akan disebut orang kaya.
Rumah
orang Baduy Dalam berbentuk panggung.
Segi empat maupun persegi panjang.
Mereka menyebutnya Rumah Panggung.
Rumah ini sangat unik karena hanya memiliki satu
pintu dan selalu menghadap Utara atau Selatan.
Atapnya terbuat dari anyaman daun ???? atau
“welit” begitu orang Jawa menyebutnya.
Pintu dan lantai terbuat dari bambu yang dibelah.
Tungku api tempat memasak berada di dalam rumah.
Mereka menggunakan tali yang berasal dari bambu untuk
mengikat tiang-tiang rumah. Paku tidak digunakan karena aturan adat tidak memperbolehkan
mereka menggunakannya.
Setelah mendirikan rumah mereka mengadakan syukuran
sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada Gusti Allah.
Rumah
panggung dengan satu pintu memiliki makna yang dalam.
Satu pintu melambangkan kesetiaan.
Mereka hanya boleh memiliki satu istri.
Tidak ada perceraian kecuali kematian memisahkan
mereka. Hal ini juga yang menyebabkan orang Baduy Dalam enggan
menikah dengan orang di luar suku mereka, termasuk dengan
orang Baduy Luar karena orang-orang diluar suku mereka
menganggap bahwa perceraian adalah hal yang sah-sah saja
dilakukan. Apabila terjadi pernikahan antara Baduy Dalam
dengan Luar, hukum
adat Baduy dalam mengharuskan mereka harus mengikuti hukum
adat Baduy Dalam dan harus sama dengan mereka. Perceraian
merupakan suatu hal yang dilarang oleh adat mereka.
Jika terjadi perceraian maka mereka harus keluar dari
Baduy Dalam. Sanksi
tersebut sangat berat
bagi mereka.
Masyarakat
Baduy menganggap bahwa mereka merupakan bagian dari alam
semesta. Mereka harus menjaga dan melestarikan sumberdaya alam yang
ada. Inilah
yang mendasari mereka untuk tidak menggunakan bahan-bahan
kimia yang dapat merusak lingkungan.
Mereka tidak menggunakan sabun, sampo, pasta gigi,
pestisida maupun bahan-bahan kimia yang lainnya.
Untuk menggantikan bahan-bahan itu, mereka mengambil
bahan-bahan dari alam yang lebih ramah lingkungan.
Suku
Baduy dengan segala keunikannya mengundang masyarakat luar
untuk datang berkunjung.
Mereka tidak menolak kedatangan orang asing di
kampung mereka. Meskipun
mereka terbuka menerima kedatangan orang luar.
Salah satu usaha mempertahankan kondisi mereka adalah
dengan membatasi waktu menginap.
Tamu dari luar diperbolehkan menginap hanya dalam
waktu semalam dan tidak boleh lebih.
Hal ini merupakan cara mereka untuk membentengi diri
dari pengaruh luar. Para
tamu harus mengikuti aturan (hukum) adat yang mereka
jalankan untuk memasuki wilayah mereka.
Suku
Baduy merupakan salah satu suku yang tetap mempertahankan
kondisi mereka ditengah kemajuan zaman.
Merupakan tanggung jawab kita bersama untuk membantu
mereka mempertahankan kondisi mereka apa adanya.
Kesederhanaan dan kepedulian mereka terhadap alam
semestinya dapat dijadikan contoh bagi kita semua.
Kearifan mereka semoga dapat menggugah nurani kita
untuk lebih peduli terhadap lingkungan disekitar kita.
Kearifan local yang mereka terapkan dalam keseharian
merupakan sebuah bukti bahwa mereka dapat menjaga alam
dengan aturan main dari yang mereka terapkan sendiri dan
eksistensi mereka layak kita perjuangkan selamanya.
Informasi
ini didapat saat diskusi dengan jaro sani di cibeo
Pada
saat kegiatan tapak Baduy dan Bhaksos 2003
Thanks
to be my inspiration
(Kunarti-AM
L-IPB)
Revisi
oleh
Vierin-AM
L-IPB
|