Free Web Hosting by Netfirms
Web Hosting by Netfirms | Free Domain Names by Netfirms

 

 

 
 
       
   WARUNG MURAH
Akhirnya warung murah yang ditunggu - tunggu oleh anak Lawalata resmi sudah dibuka.Warung yang diinisiasi oleh Bang Farid (L-025) memang sangat dinantikan karena  menyediakan makanan sesuai dengan kantong mahasiswa IPB. Bayangkan dengan seribu rupiah  
 

mahasiswa dapat mengisi perutnya. Wow, berapa banyak uang bisa dihemat.

Tapi kabar selanjutnya, ternyata harga yang akhirnya direalisasikan tidak jauh berbeda dengan warung disekitarnya, alhasil banyak anak Lawalata yang kecewa. Namun bagaimanapun juga keunggulan warung ini adalah kebersihan yang  terjamin sehingga makanan yang disajikan terlepas murah atau tidaknya adalah merupakan suatu nilai lebih. Terima kasih buat Bang Farid.... 


KAMPUNG LAWALATA

Kampoeng Lawalata, demikian kami menyebutnya. Kampoeng Lawalata tak lain dan tak bukan adalah tempat ngumpulnya anak Lawalata yang terletak di kampus IPB Darmaga. Mahasiswa mengenalnya dengan sebutan gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) karena memang itulah nama resminya.

Dahulu menurut cerita, tempat ngumpulnya anak Lawalata itu ada di kampus Baranangsiang, itu lho depan kantor pos yang ada di Kopma IPB, sekarang sih jadi kantinnya FMIPA. Sekitar tahun 1994, sekretariat sudah mulai dipindahkan dari kampus Baranangsiang, pada waktu itu kondisi sekretariat tentu jauh lebih sederhana dibandingkan sekretariat yang ada sekarang.

 Di tempat tersebut selalu "berpenghuni" yakni anak Lawalata yang berupaya "mengirit" sehingga bisa mengalokasikan duit kost jatah ortu untuk kegiatan di Lawalata yang memang sering berjalan-jalan mencari tempat-tempat yang menyejukkan hati setelah pening menghadapi ketatnya belajar di kampus.

Tahun 1995-an, Kampoeng Lawalata masih belum berfungsi sebagaimana mestinya. Pada waktu itu memang kondisi kampus IPB Darmaga masih sangat sepi, suhu sangat panas karena pohon belum pada tinggi. Dan kegiatan Lawalata masih berpusat di Baranang Siang. Kampoeng Lawalata di Darmaga saat itu lebih sering kosongnya. Lawalatapun terus berusaha menghidupkan kampoeng Lawalata. "bayangkan pada waktu itu untuk nyari makan aja harus keluar kampus"  warung di samping GOR pun baru muncul belakangan, tapi lumayan deh anak-Lawalata bisa ngutang di situ akhirnya. UKM lain boro-boro mau ngisi. hanya Pramuka aja yang kadang-kadang suka nongol.

O,iya oleh PR III waktu itu, gedung PKM IPB dikapling untuk berbagai kegiatan kemahasiswaan. Lantai atas adalah khusus milik senat mahasiswa. Ruangannya paling besar dan cukup lengkap dengan sebuah sofa mewah (waktu itu), namun ya itu tadi orang pada males ngisi tempat itu. Lawalata sendiri kebagian hanya satu petak memanjang kebelakang berbagi ruangan dengan kawan kawan Gema Almamater. Kalau diitung-itung hanya setengahnya dari yang ada sekarang.

Dengan memakai azas manfaat dan ketika itu hanya Lawalata  yang  ada di gedung PKM IPB, akhirnya semua barang yang ada berpindah ke Lawalata. Ruangan Lawalata mulai diperbesar (berbentuk huruf L). Ketika itu Lawalata mempunyai ruang rapat yang cukup besar di lantai bawah (sekarang sudah dipakai Pramuka). Keadaanpun sudah mulai nyaman. Pengadaan telepon sebagai salah satu sarana komunikasi segera diupayakan dengan menyisihkan sebagian dana simpanan (ketika itu  hanya Lawalata yang punya telepon sendiri - duit sendiri lagi).

Lantai yang terbuat dari ubin semen, sungguh tidak nyaman pikir kami waktu itu. Akhirnya diupayakanlah beli karpet plastik. Seluruh lantai dibungkus plastik (lagi-lagi modal sendiri). Sampai akhirnya kondisi kampoeng mulai mirip sebuah sekretariat karena memang anak Lawalata sudah mulai sering ada di situ. 

Biar terlihat bahwa disitu adalah tempat ngumpul Lawalata, maka dibuatlah semacam plang nama yang terbuat dari kayu jati hasil "ngambil" di Fahutan (sayang sekarang sudah tidak terlihat, -dimakan rayap kali). 

Keberadaan kampoeng sempet sepi dikarenakan listrik ketika itu dicabut (mungkin sekitar tahun 1997-an). Upaya yang dilakukan adalah nyari kabel panjang lalu nyolok ke GOR dan listrikpun menjadi terang kembali sampai akhirnya pihak rektorat memperbaiki listrik tersebut.

Penghuni Kampoeng silih berganti namun yang paling lama menjadi penghuni kalau tidak salah  adalah Teguh (L-   ).  Sejak 1998/1999 mulai kampoeng ramai dikunjungi orang. Anak-anak Wapala Kornita (didikannya Assad) lebih banyak nongkrong di kampoeng / gak tau bolos apa nggak. untung ada mereka kata Teguh, sehingga kampoeng selalu bersih.

Sekarang kampoeng sudah sangat baik kondisinya. lantai sudah bukan plastik lagi tapi sudah memakai keramik. fasilitas pendukung kehidupan banyak. ada wartel, swalayan, warung makan 24 jam rental komputer, kamar mandi lebih baik (dulu mandi harus ke kampus ITK atau mesjid lama), ngampus deket apalagi????.

Itulah enaknya jadi anak Lawalata. Kuliah di IPB gak perlu lagi mikirin kost-kostan. ke kampus tinggal nyamber sepatu yang ada di depan pintu, cuci muka lalu kuliah deh.    (ditulis oleh wishnu/L-200)


                                          design:WT/ L-200