mahasiswa
dapat mengisi perutnya. Wow, berapa banyak uang bisa dihemat.
Tapi kabar selanjutnya, ternyata harga yang akhirnya
direalisasikan tidak jauh berbeda dengan warung disekitarnya,
alhasil banyak anak Lawalata yang kecewa. Namun bagaimanapun
juga keunggulan warung ini adalah kebersihan yang
terjamin sehingga makanan yang disajikan terlepas murah atau
tidaknya adalah merupakan suatu nilai lebih. Terima kasih
buat Bang Farid....
KAMPUNG LAWALATA
Kampoeng
Lawalata,
demikian
kami menyebutnya.
Kampoeng
Lawalata
tak
lain
dan
tak
bukan
adalah
tempat
ngumpulnya
anak
Lawalata
yang
terletak
di
kampus
IPB Darmaga.
Mahasiswa
mengenalnya
dengan
sebutan
gedung
Pusat
Kegiatan
Mahasiswa (PKM)
karena
memang
itulah
nama resminya.
Dahulu
menurut cerita,
tempat
ngumpulnya
anak
Lawalata
itu
ada
di
kampus Baranangsiang,
itu
lho
depan
kantor
pos
yang
ada
di
Kopma IPB,
sekarang
sih
jadi
kantinnya FMIPA.
Sekitar
tahun
1994,
sekretariat
sudah
mulai
dipindahkan
dari
kampus Baranangsiang,
pada
waktu
itu
kondisi
sekretariat
tentu
jauh
lebih
sederhana dibandingkan
sekretariat
yang
ada
sekarang.
Di
tempat
tersebut
selalu
"berpenghuni"
yakni
anak
Lawalata
yang
berupaya
"mengirit"
sehingga
bisa
mengalokasikan
duit
kost
jatah
ortu
untuk
kegiatan
di
Lawalata
yang
memang
sering
berjalan-jalan
mencari
tempat-tempat
yang
menyejukkan
hati
setelah
pening
menghadapi
ketatnya
belajar
di kampus.
Tahun
1995-an,
Kampoeng
Lawalata
masih
belum
berfungsi
sebagaimana
mestinya.
Pada
waktu
itu
memang
kondisi
kampus
IPB
Darmaga
masih
sangat
sepi,
suhu
sangat
panas
karena
pohon
belum
pada
tinggi.
Dan
kegiatan
Lawalata
masih
berpusat
di
Baranang
Siang.
Kampoeng
Lawalata
di
Darmaga
saat
itu
lebih
sering
kosongnya.
Lawalatapun
terus
berusaha
menghidupkan
kampoeng
Lawalata.
"bayangkan
pada
waktu
itu
untuk
nyari
makan
aja
harus
keluar
kampus"
warung
di
samping
GOR
pun
baru
muncul
belakangan,
tapi
lumayan
deh
anak-Lawalata
bisa
ngutang
di
situ
akhirnya.
UKM
lain
boro-boro
mau
ngisi.
hanya
Pramuka
aja
yang
kadang-kadang
suka
nongol.
O,iya
oleh
PR
III
waktu
itu,
gedung
PKM
IPB
dikapling
untuk
berbagai
kegiatan
kemahasiswaan.
Lantai
atas
adalah
khusus
milik
senat
mahasiswa.
Ruangannya
paling
besar
dan
cukup
lengkap
dengan
sebuah
sofa
mewah
(waktu
itu),
namun
ya
itu
tadi
orang
pada
males
ngisi
tempat
itu.
Lawalata
sendiri
kebagian
hanya
satu
petak
memanjang
kebelakang
berbagi
ruangan
dengan
kawan
kawan
Gema
Almamater.
Kalau
diitung-itung
hanya
setengahnya
dari
yang
ada
sekarang.
Dengan
memakai
azas
manfaat
dan
ketika
itu
hanya
Lawalata
yang
ada
di
gedung
PKM
IPB,
akhirnya
semua
barang
yang
ada
berpindah
ke
Lawalata.
Ruangan
Lawalata
mulai
diperbesar
(berbentuk
huruf
L).
Ketika
itu
Lawalata
mempunyai
ruang
rapat
yang
cukup
besar
di
lantai
bawah
(sekarang
sudah
dipakai
Pramuka).
Keadaanpun
sudah
mulai
nyaman.
Pengadaan
telepon
sebagai
salah
satu
sarana
komunikasi
segera
diupayakan
dengan
menyisihkan
sebagian
dana
simpanan
(ketika
itu
hanya
Lawalata
yang
punya
telepon
sendiri
-
duit
sendiri
lagi).
Lantai
yang
terbuat
dari
ubin
semen,
sungguh
tidak
nyaman
pikir
kami
waktu
itu.
Akhirnya
diupayakanlah
beli
karpet
plastik.
Seluruh
lantai
dibungkus
plastik
(lagi-lagi
modal
sendiri).
Sampai
akhirnya
kondisi
kampoeng
mulai
mirip
sebuah
sekretariat
karena
memang
anak
Lawalata
sudah
mulai
sering
ada
di
situ.
Biar
terlihat
bahwa
disitu
adalah
tempat
ngumpul
Lawalata,
maka
dibuatlah
semacam
plang
nama
yang
terbuat
dari
kayu
jati
hasil
"ngambil"
di
Fahutan
(sayang
sekarang
sudah
tidak
terlihat,
-dimakan
rayap
kali).
Keberadaan
kampoeng
sempet
sepi
dikarenakan
listrik
ketika
itu
dicabut
(mungkin
sekitar
tahun
1997-an).
Upaya
yang
dilakukan
adalah
nyari
kabel
panjang
lalu
nyolok
ke
GOR
dan
listrikpun
menjadi
terang
kembali
sampai
akhirnya
pihak
rektorat
memperbaiki
listrik
tersebut.
Penghuni
Kampoeng
silih
berganti
namun
yang
paling
lama
menjadi
penghuni
kalau
tidak
salah
adalah
Teguh
(L-
).
Sejak
1998/1999
mulai
kampoeng
ramai
dikunjungi
orang.
Anak-anak
Wapala
Kornita
(didikannya
Assad)
lebih
banyak
nongkrong
di
kampoeng
/
gak
tau
bolos
apa
nggak.
untung
ada
mereka
kata
Teguh,
sehingga
kampoeng
selalu
bersih.
Sekarang
kampoeng
sudah
sangat
baik
kondisinya.
lantai
sudah
bukan
plastik
lagi
tapi
sudah
memakai
keramik.
fasilitas
pendukung
kehidupan
banyak.
ada
wartel,
swalayan,
warung
makan
24
jam
rental
komputer,
kamar
mandi
lebih
baik
(dulu
mandi
harus
ke
kampus
ITK
atau
mesjid
lama),
ngampus
deket
apalagi????.
Itulah
enaknya
jadi
anak
Lawalata.
Kuliah
di
IPB
gak
perlu
lagi
mikirin
kost-kostan.
ke
kampus
tinggal
nyamber
sepatu
yang
ada
di
depan
pintu,
cuci
muka
lalu
kuliah
deh.
(ditulis
oleh
wishnu/L-200)
design:WT/ L-200
|